Pacta Sunt Servanda

Jumat, 14 September 2018
Pukul 23.16

Malam ini, entah mengapa perasaanku agak kacau.

Lanjutkan membaca Pacta Sunt Servanda

Iklan

21:20 – ..dan masih terus memaafkan

Kemarin, kau berucap bahwa kau sudah memaafkan.

Namun entah mengapa, ada sesuatu di dalam diriku berkata bahwa kata “memaafkan” di kamusmu bahkan tak pernah kau definisikan: Tanpa makna dan begitu hampa.

Lantas mengapa kau ucapkan jika tak berniat demikian?

Lidahmu begitu manis, terlalu manis malah hingga kau lupa bahwa kemampuan hatimu dalam merasakan tak sehebat kemampuan lidahmu dalam bertutur kata. Kau lupa bahwa egomu lebih besar dari segala rangkaian aksara yang kau utarakan secara lisan itu.

..sejujurnya, akan lebih baik jika kau diam saja waktu itu.. sebab tanpa kau minta pun aku akan berusaha memahami heningmu.

Aku telah memaafkanmu, sungguh. Namun entah mengapa aku tak merasakan hal yang sama darimu.

dan lagi, aku masih memaafkanmu

dan akan terus memaafkanmu

sebab hatiku terlalu muak untuk menyimpan luka lagi dan lagi.

…memangnya, siapa yang sudi untuk merasa tersakiti berkali-kali?

Pontianak, 2 September 2018

-Lin

….past..

Pagi ini, ia menjerit-jerit lagi.

Perasaan ini menjerit-jerit lagi.

Seluruh usaha kulakukan untuk meredam suara itu, namun nihil; ia tak kunjung diam juga hingga detik ini.

Aku takut, sungguh. Aku takut.

Kurasakan air mataku mulai mengalir dari kedua pelupuk mata, kian menderas, sedangkan mulutku berusaha keras untuk membungkam agar tak keluar sedikitpun rintihan dari sana.

Aku tak lagi kuasa untuk berteriak; masa lalu itu terlalu lama menyesak dada. Tangisku mulai menjadi-jadi, kian menyayat hati, sedangkan mulutku masih saja menahan rintihan dan isakan.

Kukunci pintu ruanganku sambil terus-menerus berharap tak ada yang akan berusaha masuk ke sini.

Kegetiran ini, harus kubagi pada siapa?

Aku tahu bahwa selain didorong oleh keingintahuan, pasal ini tak ada seorangpun yang akan benar-benar peduli.

Pada akhirnya aku memilih untuk memendamnya sendiri lagi. Hal ini biarlah menjadi pengetahuan diriku dan diri-Nya saja.

…setidaknya sampai aku menemukan orang yang benar-benar peduli.

Kaum Introvert Dan Kurangnya Kemampuan Bersosialisasi: Sebuah Mispersepsi

“Hah? Seriusan? Masa kamu introvert sih, Lin?”

“Kakak bohong, ih. Kak Lin ga mungkin introvert, soalnya Kak Lin supel banget orangnya.”

Saya: (Hanya bisa menyimpul senyum)

Tiap kali mendengar anggapan tersebut, saya selalu berusaha untuk menahan diri agar tidak berceramah panjang lebar mengenai penjelasan yang sesungguhnya.

Jujur, kuping saya panas. 😑

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kaum introvert, dari sudut pandang awam selama ini, selalu dikaitkan dengan seseorang dengan ketidakmampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, ternyata ketidakmampuan tersebut justru tidak ada hubungannya dengan menjadi sosok introvert.

Kok bisa? Mari kita kembali lagi ke pembahasan MBTI! (Yang masih belum tahu soal MBTI, saya sudah pernah membahasnya sekilas di sini)

Seperti yang sudah pernah saya bahas, ada salah satu tipe kepribadian MBTI yang terdiri atas kutub introvert dan ekstrovert. Nah, menurut pemaparan ahli tentang kedua kutub tersebut, keduanya tidak memiliki relevansi terhadap kemampuan bersosialisasi, namun istilah introvert dan ekstrovert digunakan untuk mengindikasikan bagaimana cara seseorang memperoleh energinya, apakah dengan cara bersosialisasi atau menyendiri.

Jadi gini lho maksudnya: Tipe ekstrovert justru merasa lebih nyaman kalau mereka berada dan berbaur di tengah keramaian dan menjadi pusat perhatian. Hanya saja, ketika dihadapkan dengan kesendirian, tipe ekstrovert akan kelelahan dan nggak bakal tahan dengan kesendirian. Mereka akan mengusahakan berbagai cara untuk kembali ke keramaian. Singkatnya, kesendirian menguras energi ekstrovert. Sebaliknya, introvert merasa nyaman ketika sendirian namun cepat lelah ketika dihadapkan dengan situasi yang membutuhkannya untuk bersosialisasi dalam waktu yang lama.

Ini bukan berarti tipe introvert menghindari pergaulan, hanya saja memang kalau disuruh memilih antara pergi ke acara sosial dan tinggal di rumah saja, jika mereka merasa bahwa acara sosial tersebut kurang penting maka mereka akan memilih untuk tinggal di rumah dan menikmati kesendirian. Dalam pergaulan, introvert kalau nggak diajak ngomong ya bakal diam aja, tetapi nggak akan keberatan juga kalau diajak ngomong (walaupun jawabnya cuma seperlunya saja) Secara, mereka tidak terlalu menyukai perbincangan yang sifatnya formalitas belaka. Kalau nggak perlu ya nggak usah ngomong. Buang-buang energi.

Introvert bisa saja kok bersosialisasi, hanya saja mereka akan kelelahan setelahnya dan perlu menyendiri lagi untuk mengisi energinya kembali. Sama sekali nggak ada hubungannya yang dengan kemampuan bersosialisasi, kan?

Ekstrovert, walaupun mereka menyukai keramaian, mereka belum tentu memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik. Sama halnya dengan introvert yang cenderung menikmati kesendirian, mereka bisa saja memiliki kemampuan bersosialisasi yang lebih baik daripada seorang ekstrovert walaupun mereka lagi-lagi akan memilih menyendiri jika situasinya tidak membutuhkan mereka untuk bersosialisasi (namun tidak akan keberatan juga untuk bersosialisasi jika diperlukan)

Kelar kan mispersepsinya?

Kafein dan Jam Dua Pagi

Sudah pukul dua menuju tiga pagi dan aku masih tetap terjaga.

Penyesalan akhirnya melintas dalam benak ketika mataku mendapati sebotol minuman kopi kosong yang tergeletak begitu saja di atas meja. Biasanya kafein tidak terlalu berefek terhadap keterjagaanku, efeknya hanya akan bertahan hingga empat puluh menit kedepan. Lantas setelah sekian lama mengapa dampaknya sekarang baru begitu terasa?

Spontan aku mendengus pelan.

Jika diberikan dua pilihan untuk menenggak teh atau kopi untuk menikmati waktu luang, aku jelas akan memilih teh. Hanya saja kali ini masalahnya adalah aku memang sedang membutuhkan kafein untuk membuatku terjaga untuk menyelesaikan tugasku.

..aku baru saja ingat..

Dari rencana awal hanya menyesap minuman itu sekali saja, aku malah menenggak satu botol sekaligus.

Pengendalian diri yang sangat baik sekali, Lin!

Kini kalimat-kalimat bermajas satire pun mulai disuarakan oleh pikiranku, mengutuk kecerobohan yang telah kulakukan beberapa jam yang lalu. Luar biasa!

Dan suara-suara itu sangat “membantu” tubuh dan pikiranku agar tetap terjaga lebih lama. Haruskah aku “berterima kasih”?

..sebaiknya kuhindari saja minum kopi di malam hari..

Wanita di Tepi Pagi

Akhirnya pertengahan bulan Agustus pun tiba, memasuki hari kesembilan setelah ulang tahunku.

Aku resmi berusia tujuh belas tahun lebih sembilan hari pada hari ini.

Dan tidak ada yang istimewa, tentu saja.

Kemudian aku mematut pada bayanganku yang direfleksikan oleh cermin yang berada di depanku. Tidak ada perubahan yang terlalu mencolok pada wajahku selain bentuknya yang tampak lebih tirus daripada sebelumnya. Kedua mata yang entah mengapa sering dipuji indah oleh orang lain, masih sama sendunya dengan yang dulu. Bahkan bibir ini yang masih belum mampu melengkungkan senyum dengan leluasa selayaknya manusia bahagia pada umumya masih berwarna merah muda agak kecokelatan.

Tunggu dulu, memangnya aku bahagia?

Kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, kemudian terpaku pada pemandangan langit jingga di luar jendela yang tak jemu-jemu menyapa senjaku.

Sejauh yang kutahu, aku pernah bahagia dan aku percaya saat ini pun aku masih bahagia.

Namun mengapa aku merasakan sedikit kehampaan dalam hati ini?

Entahlah. Aku sama sekali tak ingin peduli.

Kemudian pikiranku melayang-layang sampai akhirnya tersentak ketika ia sampai pada “memori” itu.

Wanita itu..

Lanjutkan membaca Wanita di Tepi Pagi